![]() |
| Sumber : Google |
Dalam sebuah gambar,
tertulis jelas kata: “Sakit itu disini”. Ya kira-kira itulah yang saya alamai, sembari
memegang dada. Jelas saja, lha wong
keluarga saya sedang mudik di kampung. Sabar, sabar dan sabar.
Duh, beberapa hari ini saya
hanya bisa membayangkan uniknya Museum Lapawawoi , rumah adat Bola Soba, dan terowongan
terpanjang bernama Gua Mampu. Ya, itulah objek wisata Kabupaten Bone, Sulawesi
Selatan.
Masa-masa sekolah,
bermain kelereng, mandi di sumur, dan berlayar mencari ikan ikut pula terbayang.
Memang ya, kampung halaman sulit terlupakan.
Sebuah excuse memang dapat dipatahkan. Namun, orang
seperti saya, yang baru saja menandatangani kontrak kerja, ya sulit. Kesalahan besar
kalau mengambil cuti. Saya yakin, Allah pasti merencanakan yang terbaik untuk
saya. Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.
Di media online, seorang
sahabat menuturkan kisahnya. adalah Budiman. Suatu ketika, ia menemani istri
dan putrinya berbelanja kebutuhan dapur di sebuah toko. Usai membayar,
tangan-tangan mereka pun sarat dengan tas plastik belanjaan.
Usai berbelanja, istri
Budiman dihampiri dua pengemis. Sebut saja Maya dan putri kecilnya, Santi. "Beri
kami sedekah, Bu," kata Maya pada istri Budiman. “Ini Bu,” jawab istri
Budiman singkat, sembari menyodorkan uang Rp 1.000 pada Maya.
Tatkala Maya mengetahui
jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah
ke mulutnya. Kemudian, pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia
mengarahkan jari-jari yang terkuncup ke mulutnya. Ya, seolah ingin berkata,
"Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong tambahan
sedekah, Bu!".
Melihat isyarat itu,
istri Budiman menggerakkan tangannya seolah berkata, "Tidak, aku tidak
akan menambahkan sedekah untukmu!".
Ironisnya, istri dan
putrinya malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada
kesempatan yang sama, Budiman berjalan ke arah Automated Teller Machine (ATM). Kebetulan, ia ingin mengecek saldo rekening. Ya,
ia baru saja gajian.
Mengetahui saldonya telah
terisi, ia pun mencairkan sejumlah uang bilangan jutaan. Kini, pecahan ratusan
ribu menyesaki dompetnya. Dari pecahan tersebut, ia menarik uang Rp 10 Ribu
yang terselip, lalu uang itu dilipat kecil guna memberikan tambahan sedekah
pada Maya dan anaknya.
Betapa girangnya Maya
menerima uang itu. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih
kepada Budiman dengan kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih,
tuan. Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga,
Diberikan kebahagiaan lahir batin, Anak-anak saleh dan salehah, keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Semoga pula diberikan kedudukan yang terhormat
kelak di surga bersama sanak keluarga tuan ya."
Duar….!!!
Budiman benar-benar tak
menyangka mendengar respon yang mengharukan itu. Bahkan sangat mengharukan. Ia
mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa
yang diucapkan oleh pengemis itu sungguh membuatnya terpukau dan membisu.
Apalagi tatkala ia dengar Maya berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan
juga ya".
Deggg...!!!
Hati Budiman tergedor
dengan begitu kencang. Rupanya Maya sungguh berharap tambahan sedekah agar ia
dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian, mata Budiman membuntuti kepergian
mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal
untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam
dan terpana di tempatnya, hingga istri dan putrinya menyapa. "Ada apa
Pak?" Ucap Istrinya tatkala penasaran menyaksikan mata suaminya
berkaca-kaca.
Dengan suara yang agak
berat, Budiman menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada
wanita tadi sebanyak Rp 10 Ribu".
"Bu, aku memberi
sedekah kepada mereka sebanyak itu. Saat mereka menerimanya, ia berucap hamdalah
berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku,
mendoakanmu, anak-anak dan keluarga kita. Panjang sekali doanya,” lanjut
Budiman.
Belum sempat istrinya
berbicara, Budiman masih saja melanjutkan: “Padahal, Rp 10 saja sudah
sedemikian hebatnya bersyukur. Sebelumnya, ketika aku mengecek saldo di ATM
tadi, disana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari Rp 10
Ribu. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku
terlupa bersyukur, dan aku lupa terlupa pula berucap hamdalah.
Kalau memang demikian,
siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima Rp 10
Ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih
banyak dari itu namun sedikitpun berucap hamdalah."
Budiman mengakhiri
kalimatnya dengan suara yang terbata-bata. Beberapa bulir air mata yang
menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari selama ini kurang
bersyukur sebagai seoarang hamba.
“Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat)-Ku” (QS. 2:152).
Moga-moga Ramadan ini bisa
menjadi bahan intropeksi.
Follow @mardiundercover
Jumardi
Salam
Samarinda,
28 Juli 2014
